Kisah Sukses Afrizani Ciptakan Teknologi
![]() |
| Afrizani Pencipta Teknologi |
*KISAH THEODARE ALIAS AFRIZANI ANAK MARIA SHARAPOVA PENEMU TEKNOLOGI*
Nama saya Theodare. Lahir Aguero Amerika Serikat, di sebuah Desa di Lisbon. Tepatnya pada 2 Appril 1985. Ibuku Maria Sharapova. Tinggal di Nyagan Rusia. Sebuah desa perbatasan dengan negara Chechnya.
Kelahiranku sangat tragis. Ibuku sedang memacu kuda. Tiba tiba kuda terpeleset dalam kubangan lumpur kerbau. Kemudian Ibuku terpental. Lalu dia pendarahan dan melahirkan aku. Aku lahir dalam sebuah surau dewa. Tempat seorang pendeta memuja kehidupan para dewa.
Abu Uskup sebelumnya seorang petani. Belum ada di desa di Lisbon itu. Desa itu ada setelah aku remaja. Tempat kelahiranku adalah sepetak kebun milik Abu Uskup. Abu Uskup bernama Paus Fransiskus adiknya Paus Leo. Dia berasal dari negara Uskupia dekat Aguero.
Di usiaku tiga tahun tepatnya pada tahun 1988, Ibuku membawaku ke hutan Aceh. Kami pindah ke Aceh Indonesia. Karena Ibuku melihat kelainan di mataku. Ibuku menyembunyikan aku di sebuah pulau bernama pulau kenari di Aceh Indonesia, sekarang Pidie.
Pertama kami tinggal di sebuah hutan di sebuah desa tersembunyi. Yaitu di sebuah desa bernama Bungie Ujong Baroh, di rumah PO Salamah anaknya Ummi Kalsum dan Ainsyah.
Sekarang lokasinya, tempat kami tempati dahulu adalah di sebuah rumah milik MaLhok. Ibunya Jeff Bizof. Mereka berasal dari Brazil. Keluarga dari Ronaldinho pemain bola terkenal itu.
Cu Po salamah dan kak Ummi Kalsum sangat menyayangi kami. Meskipun pada tahun 1989, setelah itu kami pindah dan kembali lagi ke Rusia.
Ibuku menceritakan ihwal peristiwa kelahiranku. Kemudian kakek dan nenek memindahkan aku ke Amsterdam. Kami tinggal di istana kerajaan Duct. Raja Duct dari Belanda.
Bapakku bernama David Nikholas. Aku hidup dengan bapak dan Ibuku. Kami menjadi keluarga besar dari Amsterdam. Aku tinggal di istana yang bercukupan.
Pada saat itu aku belajar menulis. Aku menciptakan Huruf huruf kufic untuk Belanda. Kemudian aku menciptakan sebuah pola bulat bundar. Dan pada saat itu aku berhasil pola bundar putaran untuk roda.
Pada saat itulah menemukan sebuah putaran yang bisa dijadikan sebagai sumber kehidupan, seperti sepeda, mesin induksi, dan bahkan berbagai kincir untuk menciptakan angin.
Pada tahun 1990, Ibuku memindahkan lagi aku ke Nyagan Rusia. Di sana sangat bandel. Aku usiaku sudah menginjak dini. Ibuku memberikan nama Theo. Nama seekor burung jalak.
Nama yang aneh untukku Ibu. Jika aku mengingat nama itu aku tertawa sendiri. Lalu aku seperti nama itu. Aku seperti nama kehilangan nama. Lantas aku mencari nama yang hilang.
Dunia gelap gulita. Belum ada penerang untuk dunia. Pola bundar putaran telah dan selalu membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Dengan pola itu aku bisa menciptakan semua produktivitas di dunia, bahkan matahari dan bulan.
"Sesuatu yang aneh, dan tak mungkin terjadi. Tetapi begitulah realitas dunia."
Suatu hari Nyagan orang-orang hidup dengan bara api Kumbara. Mereka menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Unggun api sebagai penerang dunia.
Kemudian aku berpikir tentang batu bara. Apa yang bisa dijadikan untuk bahan bakar. Aku menciptakan mercon, kembang api dan roket. Dengan roket itulah aku bisa terbang tembus ke luar angkasa.
Di sana, di luar angkasa sana. Aku menciptakan arus dengan pola putar. Usahaku berhasil menciptakan cahaya untuk dunia. Aku melakukan penerbangan beberapa kali ke luar angkasa.
Kemudian, setelah aku menciptakan cahaya, aku menciptakan air dan hujan dari arus pola itu. Dunia berubah drastis di tanganku. Orang orang seperti menemukan surga yang hilang di dunia ini.
Air, angin, cahaya mulai merambah kota Nyagan. Bahkan salju berderai di langit Chechnya. Aku senang dan bahagia melihat orang- orang mengambil air di rumahku. Waktu itu belum ada cinta. Cintaku hanya untuk Ibuku.
Suatu ketika dalam waktu yang tidak kuduga, aku terbang dengan roket dengan jarak radius mil atas langit. Saat itulah aku tidak bisa kembali lagi ke dunia ini. Ibuku kehilanganku, menangis asa, mereguk air mata.
Aku tahu, karena dapat melihat dari mata kepalaku sendiri. Lalu aku terjatuh dalam gunung Amazon. Sebuah pegunungan yang cukup misteri. Saat itulah aku kehilangan jejak dunia.
Aku menemukan sepetak kaca salju. Aku memberi nama kaca itu kaca Flatel. Salju keras yang menjadi kaca. Kaca itulah yang kubuat sebagai penangkap cahaya. Kaca itu ditanganku.
Aku memegang kaca itu sepetak smartphone. Sesekali aku menangkap cahaya dengan kaca itu. Dan menjadikannya sebagai senter.
Dengan kaca itulah aku pulang menyusuri jalanan yang lengang di dalam rimbun hutan Venezuela. Aku kuat Ibu. Aku pulang begitu terbesit perasaan dalam hatiku.
Di tengah tengah perjalanan aku kehilangan cahaya. Aku lapar lalu terguling ke tanah. Aku memegang kuat kaca Flatel. Tiba tiba tanganku berdarah. Kaca Flatel kehabisan cahaya.
Aku takut. Tapi kaca Flatel dapat menguatkan mataku. Aku mencari cahaya dan menangkap lagi cahaya dengan kaca Flatel. Kaca Flatel dipenuhi darah. Lantas darah itu menjadi sebuah tombol bulat.
Saat itulah aku menemukan bayang bayang malam. Bayang malam dalam kaca Flatel. Tidak lama kemudian aku mendaki. Aku menemukan pegunungan desau. Tanpa rimbun. Lalu aku melihat pegunungan itu dari ketinggian.
Dari ketinggian aku melihat dunia. Aku bisa melihat Ibuku kembali dengan indera keenamku. Namun itu sebuah kepastian. Hanya saja ketika aku sampai di rumah. Aku melihat Ibuku sudah tersungkur dalam dilematis pesakitan.•
#iTechnologi

Komentar
Posting Komentar